Semarak HUT ke-73 Berau & ke-216 Tanjung Redeb: Kuliner Warisan Leluhur Tetap Hidup di Tengah Generasi
Aroma harum kue-kue tradisional berpadu semangat peserta Lomba Ancur Paddas dan Puncak Rasul, ditambah keramaian Festival Kue Tradisional, menghangatkan suasana peringatan HUT Kabupaten Berau ke-73 sekaligus Hari Jadi Kota Tanjung Redeb ke-216 di Lapangan GOR Pemuda, Jalan Pemuda, pada Rabu (23/9/2026).
Berbagai warna dan rasa, suara tawa warga, sorak-sorai saat berebut jajan tradisional, dan aroma masakan khas yang menguar ke udara menjadi bukti, warisan leluhur tidak hanya disimpan dalam ingatan, tetapi tetap hidup dan dirasakan bersama di Bumi Batiwakkal (sebutan Kabupaten Berau).
Kegiatan yang digagas Dinas Kabudayaan Pariwisata (Disbudpar) ini diikuti penuh semangat oleh organisasi wanita se-Kabupaten Berau dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Hadir mewarnai suasana Wakil Bupati Berau H. Gamalis, jajaran Forkopimda, kepala OPD, serta warga dari berbagai penjuru kecamatan.
Salah satu momen yang paling dinanti adalah tradisi berebut jajan tradisional yang disediakan panitia. Anak-anak berlarian, para ibu tersenyum sambil membagi-bagikan, dan para tetua terlihat mengangguk bahagia, sepotong kecil kebersamaan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati H. Gamalis menegaskan, kuliner khas Berau bukan sekadar soal rasa, melainkan jati diri bangsa yang harus dijaga.
"Lomba Ancur Paddas, Puncak Rasul, dan Festival Kue Tradisional ini adalah upaya kami melestarikan kuliner, makanan khas, dan tradisi yang menjadi kekayaan budaya Berau. Semoga tidak hanya menjadi bagian dari wisata, tetapi tumbuh menjadi peluang usaha bagi para pelaku UMKM, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat pariwisata daerah," ujar Wabup Gamalis disambut tepuk tangan warga.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Drs. Yudha Budi Santosa, menambahkan bahwa Ancur Paddas dan sajian tradisional lainnya adalah warisan yang diwariskan turun-temurun sejak masa kerajaan. Bahan, cara mengolah, hingga momen penyajiannya, semuanya mengandung nilai sejarah yang tak boleh hilang.
"Makanan seperti ini biasanya hadir di syukuran, peringatan hari besar Islam, Maulid Nabi, dan acara sakral. Melestarikan kue tradisional bukan sekadar menjaga rasa, melainkan menjaga nilai, sejarah, dan jati diri kita agar tetap dikenal anak cucu kelak," ujarnya.
Suasana di lapangan pada pagi menjelang siang itu menjadi bukti, di tengah zaman yang bergerak cepat, Berau tak melupakan akarnya. Di setiap gigitan kue tradisional, di setiap tawa saat berebut jajan, tersimpan janji, bahwa warisan leluhur akan tetap hidup, dirasakan, dan dibanggakan bersama. (Diskominfo/fhd/yar)