Pemkab Berau Bersama Baznas Gelar Tablig Akbar Bagi ASN Dalam Rangka Isro Mi'raj dan Sambut Ramadhan
Dalam rangka memperingati Isro Mi'raj sekaligus menyambut bulan Suci Ramadhan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Berau menggelar Tabligh Akbar bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Masjid Agung Baitul Hikmah, Jalan Apt Pranoto, pada Jumat (13/2/2026).
Tabligh Akbar yang dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, M Said, menghadirkan dai kondang dari Bontang, KH Muhammad Syahrin Thoriq sebagai penceramah. Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Baznas Berau, M Gazali beserta jajarannya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau, pejabat utama Pemkab Berau, sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta para ASN dari berbagai OPD.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Baznas Berau, M Gazali menjelaskan tugas institusi yang dipimpinnya. Saat ini Baznas Berau bertanggung jawab menyantuni 235 orang masyarakat miskin dengan dana transfer, bantuan sebesar Rp 400 ribu per bulan.
Dalam sambutannya sekaligus membuka acara, Sekda Berau, M Said mengingatkan pentingnya mengeluarkan zakat dan sedekah. Ia menyampaikan komitmen dari Pemkab Berau dengan sekitar 8.000 ASN yang akan menyisihkan Rp 100 ribu per bulan zakat/sedekahnya melalui Baznas. Sehingga setiap bulan dapat terkumpul dana sebesar Rp 800 juta. Menurutnya, terkadang masalah terjadi karena ada hak orang lain yang tidak dikeluarkan, sehingga harta tidak mendapatkan berkah. Dengan adanya komitmen ini, ia berharap harta para ASN berkah.
"Saya mengucapkan terima kasih, karena ASN sangat penting untuk diberikan ceramah. ASN memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat, sehingga jika ada perilaku ASN yang kurang baik, akan berdampak pada atasan dan instansi masing-masing", katanya. Karena itu, ASN harus sering-sering mengikuti pengajian mendapat nasehat agar menjadi ASN yang dapat menjadi teladan di masyarakat.
Sementara, KH Syahrin Thoriq dalm tausiahnya menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Dikatakannya, para jamaah adalah alumni Ramadhan yang telah menjalani Ramadhan puluhan kali. "Ibarat pelatihan, sudah kelasnya pakar ini, tapi justru karena sering seseorang justru meremehkan. Begitu pula dengan Ramadhan, karena dianggap ibadah rutin, tahunan. Banyak kasus terjadi karena senior justru meremehkan dan tidak berhati-hati. "Ada kaidah yang disebut 'Kasrotul misas tuhmidun ihsas' (sering dilakukan justru meremehkan) itulah bahayanya ibadah jika bertemu dengan kaidah ini", sebutnya.
" Banyak orang yang sudah berpuasa puluhan tahun, namun bukan menjadi semakin ahli, justru semakin menyepelekan ibadah," imbuhnya
Agar bulan Ramadhan yang luar biasa tetap menjadi momen yang mempesona dan memukau bagi umat Islam, lanjutnya, maka harus mengenal apa itu Ramadhan. Ia menjelaskan bahwa Ramadhan dikenal di kalangan ulama dan ahli sejarah sebagai bulan kemenangan. Banyak perjuangan yang menghasilkan keberhasilan dan kemenangan bagi umat Islam diraih di bulan Ramadhan.
Kemenangan pertama adalah Perang Badar, di mana sekitar 300 kaum Muslimin berhadapan dengan 1.000 musuh. Kondisi para sahabat saat itu sedang berpuasa, bahkan yang membawa pedang tidak sampai setengahnya. Sementara musuh bersenjata lengkap seluruhnya.
Kemudian pada tahun 6 Hijriah terjadi Fathul Makkah, di mana kampung halaman Rasulullah SAW yang dulunya terusir darinya berhasil dibuka kembali. Ramadhan adalah bulan yang melahirkan para pemenang. "Karena sesungguhnya kemenangan selalu menyertai kesabaran," jelasnya.