• Pada dasarnya pembangunan di bidang kesehatan bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara mudah, merata dan murah. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka memeratakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah dengan menyediakan fasilitas kesehatan, terutama puskesmas dan puskesmas pembantu karena kedua fasilitas tersebut dapat menjangkau segala lapisan masyarakat hingga ke daerah terpencil. Pembangunan Kesehatan merupakan pembangunan yang menyeluruh baik secara individu maupun masyarakat baik ditinjau dari segi pelayanan maupun dari segi program pembangunan kesehatan itu sendiri.

    Pembangunan kesehatan merupakan hal yang komplek sehingga untuk mencapai tujuan pembangunan itu diperlukan tolok ukur yang mudah untuk dievaluasi, untuk itu tolok ukur atau indikator yang digunakan untuk mengetahui pencapaian pembangunan kesehatan adalah situasi derajat kesehatan masyarakat dengan mengukur 4 tolak ukur yaitu :

    a. Angka Harapan Hidup (AHH)
    b. Mortalitas (Kematian)
    c. Morbiditas (Kesakitan)
    d. Status Gizi

    Pencapaian derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Berau pada tahun 2013 dalam pelaksanaan program dan kegiatan mengalami peningkatan yang cukup signifikan, ini ditunjukkan dengan angka-angka penurunan kasus-kasus kematian bayi maupun ibu serta meningkatnya umur harapan hidup dibandingkan tahun sebelumnya tidak terlepas dari berbagai upaya pembangunan kesehatan yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Berau dengan dukungan seluruh lapisan masyrakat.

    1. Angka Harapan Hidup (AHH)
    Angka Harapan Hidup di Kabupaten Berau cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2012 AHH sebesar 70,18% tahun dan pada tahun 2013 mencapai 71,00 % tahun. Peningkatan AHH ini dipengaruhi oleh multifactor, antara lain faktor kesehatan menjadi salah satu yang berperan penting didalamnya. Peran faktor kesehatan ditunjukkan dari semakin menurunnya angkat kematian, perbaikan sistem pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi di masyarakat.

    2. Angka Kematian (Mortalitas)
    a. Angka Kematian Bayi (AKB )
    Di Kabupaten Berau menunjukkan kecenderungan menurun dari tahun ke tahun . Sejak tahun 2006 AKB -> 60,22 perseribu kelahiran hidup, tahun 2007 -> 58,02 , sementara pada tahun 2008 menjadi -> 54.17, tahunv2009 turun lagi 43,36, tahun 2010 menjadi 39,04 perseribu kelahiran hidup, tahun 2011 menjadi 34,36 perseribu kelahiran hidup, tahun 2010 39,04 perseribu kelahiran hidup, tahun 2011 menjadi 34,36 perseribu kelahiran hidup, tahun 2012 turun menjadi 20,67 dan pada tahun 2013 terjadi kenaikan yaitu menjadi 21,80 perseribu kelahiran hidup. Adanya penurunan ini menggambarkan peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat. Selain itu penurunan AKB tersebut antara lain disebabkan oleh peningkatan cakupan Imunisasi bayi, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan, penempatan tenaga bidan atau paramedis di desa dan meningkatnya proporsi ibu dengan pendidikan yang tinggi, sedangkan kenaikan angka kematian menggambarkan penurunan dalam kualitas hidup masyarakat.

    b. Angka Kematian Balita (AKABA)
    Pada tahun 2005 angka Kematian Balita di Kabupaten Berau sebesar 2,40 per 1.000 balita, turun menjadi 32,1 per 1.000 balita pada tahun 2006 dan menjadi meningkat 32,84 per 1.000 balita pada tahun 2007, namun pada tahun 2008 terjadi penurunan yakni 30,22 perseribu balita dan kembali mengalami kenaikan menjadi 35,7 pada tahun 2010. Untuk tahun 2011 sebesar 4,9 per 1.000 balita, tahun 2012 sebanyak 3,7 per 1.000 balita dan pada tahun 2013 turun menjadi 1,28 per 1.000 balita. AKABA menurun menunjukkan semakin membaiknya kondisi situasi kesehatan adalah tidak terlepasnya peranan tenaga kesehatan baik dari segi kuantitas maupun kualitas, termasuk pemahaman masyarakat teradap pentingnya preventif di bidang kesehatan.

    c. Angka kematian ibu (MMR)
    Angka kematian ibu atau Maternal Mortality Rate ( MMR ) sangat erat hubungannya dengan tingkat kesadaran prilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu serta tingkat pelayanan kesehatan ibu terutama pada saat ibu hamil , bersalin dan masa nifas. Apabila dilihat dari 7 tahun terakhir angka kematian ibu menunjukkan angka yang menurun, pada tahun 2005 berjumlah 215,45 per seratus ribu , tahun 2006 berjumlah 199,61 perseratusribu menjadi 197,53 perseratusribu tahun 2007, dan pada tahun 2008 angka kematian ibu naik menjadi 243,77 perseratusribu. Pada Tahun 2011 sebanyak 179, 65 perseratusribu, tahun 2012 sebanyak 215,33 perseratusribu kemudian tahun 2013 naik menjadi 320,65 perseratusribu. Angka kematian ibu mengalami peningkatan walau tidak terlalui signifikan, hal ini disebabkan beberapa penyebab kematian seperti pendarahan, hipertensi dalam kehamilan serta penyebab lain yang belum di ketahui jelas kematiannya yang membutuhkan pertolongan cepat dari petugas kesehatan.

    3. Angka Kesakitan (Mobiditas)
    a. Pola Penyakit
    Pada Tahun 2013 di Kabupaten Berau, penyakit infeksi berbasis lingkungan masih mendominasi 10 besar penyakit di Kabupaten Berau, yaitu infeksi saluran pernafasan atas akut (ISPA) seperti Rhinitis, Influenza dan Diare diikuti oleh penyakit infeksi lainnya, yaitu Gastritis disamping munculnya penyakit degeneratif seperti hipertensi. Tingginya angka yang tergolong penyakit saluran pernapasan bagian atas oleh karena dalam golongan penyakit ini ada banyak jenis diagnosa penyakit yang sebenarnya jika dirinci satu-satu maka akan menurun secara kuantitas. Misalnya yang tergolong dalam kategori Pharingitis, Tonsilitis, Tonsilopharingitis dan terkadang juga batuk dan Flu.

    b. Penyakit Menular
    1). Demam Berdarah Dengue (DBD)
    Pada tahun 2013 jumlah penderita DBD mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada tahun 2013 terdapat 147 penderita DBD (IR 0,76 o/oo) sedangkan pada Tahun 2012 sebanyak 118 penderita (IR 0,8 o/oo). Peta Penyebaran penyakit DBD pada Tahun 2013 memperlihatkan bahwa penderita demam berdarah terdapat di seluruh wilayah kecamatan. Kejadian paling tinggi terjadi di 3 (tiga) kecamatan dengan populasi tertinggi yaitu Kecamatan Tanjung Redeb 91 penderita, Kecamatan Teluk Bayur 23 Penderita dan Kecamatan Sambaliung 15 Penderita.

    2). Diare (Gastroenteritis)
    Penyakit Diare di Kabupaten Berau tergantung dengan musim dan bersifat situasional, saat musim menjelang kemarau dan menjelang hujan angka penderita cukup tingg